Awal dan Akhir

Simpelsaja.com - Ini adalah cerita saya, cerita yang membuat saya berfikir bahwa  hubungan antar manusia memang akan berakhir dan kemudian akan diawali dengan cerita yang baru kembali.
Ceritanya begini, saya seorang pegawai disalah satu BUMN yang kebetulan kantor pusatnya berada di Bandung dan saya ditempatkan disitu. Asal saya adalah dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerja jauh dari kota asal membuat saya harus menyewa sebuah kamar kos di Bandung. kosan saya berada di daerah jalan Suci, namun masuk kecamatan Sadang Serang.
Saya kos dengan ketiga teman saya yang ketiganya juga bekerja ditempat yang sama dengan saya dan satu angkatan pula. Mereka adalah mba Nisa, mba Dini, dan ka Eva. Bagi saya keluarga terdekat saya adalah mereka di kota Bandung setelah keluarga pasangan saya, karena sebagian besar hari-hari yang saya lalui, saya habiskan bersama mereka.
Kamar kosan kami sangatlah bagus, dengan furniture yang masih baru lengkap dengan kamar mandi dalam ditambah dengan harga yang tidak terlalu mahal membuat kami sangat merasa nyaman di kosan ini, walaupun kosan ini memang jauh dari jalan raya dan harus masuk ke gang-gang seperti labirin sehingga kami menamai kosan kami sendiri dengan sebutan 'kosan nyungsep' (terdengar lucu memang). Setiap harinya kami pergi ke kantor dengan berboncengan motor, ka Eva dengan mba Nisa dan saya dengan mba Dini. Seperti sudah terbiasa dengan formasi ini, maka ketika salah satu diantara kami ada yang tidak ada karena alasan sakit atau pekerjaan maka akan terasa ada yang kurang. Namun, bukan berarti kami tak punya kehidupan pribadi. Kami memahami hak masing-masing, kami berteman tapi kami menyadari bahwa berteman tak harus bersama secara terus-menerus. Lantas menyalahkan teman kita, bila dia tak ingin menghabiskan waktu bersama kita dan menyalahkan orang lain yang bersama teman kita. Sungguh menyiksa bila kita berteman dengan orang-orang seperti itu. 
owh ya, saya adalah anak paling bontot diantara mereka bahkan diantara teman seangkatan saya, sehingga bagi saya mereka adalah kakak-kakak saya dan mereka menganggap saya adalah adik mereka. Setiap hari dengan berangkat dan pulang bekerja dengan mba Dini, membuat saya sudah terbiasa dengan mba Dini. Karena mba Dini yang terbiasa membawa motor dengan gesit, dan tahu tentang jalan-jalan di Bandung membuat saya sudah terbiasa dengan itu. Bahkan ketika kami sedang nyasar, mba Dini akan secepat mungkin menemukan jalan utama kembali. Soal naek motor, mungkin dia sudah jago.
Nah kemudian baru beberapa hari ini ada teman satu angkatan kami yang ikut gabung dikosan nyungsep kita, namanya adalah mba Meta. Mba Meta ini asalnya dari Jawa Tengah, dia memutuskan gabung di kosan kami setelah kami telah merayunya berulang kali. :)) kebetulan ketika mba Meta sudah menginap di malam ke satu di kosan kami mba Dini ada perjalanan dinas ke Malang, alhasil partner motor saya gak ada. Biasanya kalau mba Dini gak ada, saya pergi ke kantor dengan naek angkot dan pulangnya kadang nebeng temen satu divisi saya. Karena kebetulan sekarang mba Meta ada, maka kunci motor mba Dini dititipkan ke mba Meta agar dibawa dan kita gak perlu repot-repot naek angkot. Karena saya sudah terbiasa dengan mba Dini yang serba tau jalan dan gesit ketika naek motor, tiba-tiba saya harus dibonceng mba Meta yang naek motornya serba pelan dan hati-hati, dan karena mba Meta belum terlalu hafal jalan maka dia akan sering nanya ini belok kemana dan terus kemana. 
Lantas saya berfikir mungkin inilah rasanya memulai hal yang baru dengan orang yang baru, akan terasa sangat berbeda seperti biasanya yang sering kita lakukan dengan orang sebelumnya. Namun, semuanya tentu akan berangsur-angsur seperti biasa.
Seperti itulah hubungan antar manusia, mereka dipertemukan lalu dipisahkan dan dipertemukan lagi dengan orang lain. Memulai kembali hubungan dengan orang baru, dengan sifat barunya, wataknya, karakternya dan hal baru lainnya. Mungkin awalnya akan canggung, aneh atau tidak terbiasa namun lama kelamaan akan terbiasa.
Kehidupan manusia memang hanya akan berisi tentang ditinggalkan atau meninggalkan, namun bukan berarti mereka yang meninggalkan kita adalah orang-orang jahat. Itu hanya karena babak cerita mereka dalam hidup kita sudah habis dan ada tokoh baru lagi muncul. Ya memang seperti itu, jadi tak perlu takut akan sebuah kehilangan. Termasuk kehilangan teman, karena berteman itu tak harus selalu bersama.
Kalau kata manajerku, Tuhan mempertemukan setiap manusia dengan manusia lainnya karena ada maksud dan ajaran yang bisa diambil dari masing-masing pribadi. Jadi, jangan takut untuk memulai dan mengakhiri pertemanan selama itu memiliki tujuan yang baik.


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Kucoba.com | Galeripos.com
Copyright © 2011. simpelsaja.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Galeripos.com
Proudly powered by Blogger